
4Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga.
Pemerintah memitigasi dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap kondisi ekonomi serta pasokan kebutuhan pokok di dalam negeri. Pemerintah memastikan stok pangan, termasuk beras, serta bahan bakar dalam kondisi aman meski terdapat potensi kenaikan harga.
Pemerintah juga meminta masyarakat tidak panik atau khawatir karena cadangan pangan dan bahan bakar dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga 21 hari ke depan.
Selain menjaga pasokan, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan kelangsungan usaha dengan memanggil para eksportir. Langkah ini dilakukan guna memitigasi risiko sekaligus memetakan peluang bisnis yang muncul akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.
1. Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah Temui Eksportir
Menteri Perdagangan Budi Santoso segera melakukan pertemuan dengan kalangan pengusaha untuk membahas komoditas yang berpotensi mengalami hambatan rantai distribusi, terutama produk-produk dengan negara tujuan yang melalui atau beririsan dengan Selat Hormuz.
Di sisi lain, Budi juga menyoroti potensi gangguan terhadap pasokan bahan baku industri yang dibutuhkan para eksportir.
2. Pengalihan Ekspor
Pemerintah bakal mengalihkan ekspor ke negara-negara yang minim terdampak konflik. Budi memastikan tensi konflik yang belum mereda hingga saat ini berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, termasuk kinerja ekspor nasional ke negara tujuan utama seperti kawasan Eropa maupun Timur Tengah.
mbuhnya.
3. Nilai Perdagangan RI yang Bergantung pada Selat Hormuz
Neraca ekspor Indonesia ke negara-negara yang perdagangannya bergantung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz tercatat cukup besar. Misalnya, nilai ekspor Indonesia ke Mesir mencapai 1,527 juta dolar AS dan ke Rusia sebesar 1,740 juta dolar AS.
4. Upaya Amankan Pasokan Energi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bergerak cepat melakukan mitigasi dampak ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.








